Follow by Email

Wednesday, 20 August 2014

pengorban ortu

Alhamdulillah setelah mencoba untuk masul ke Perguruan Tinggi Negeri dua kali gagal akhirnya percobaan untuk ketiga kalinya berhasil masuk dengan biaya Uang Kuliah Tunggal(UKT) sebesar Rp 1.160.000,-. Mungkin bagi saya dan bagi orang yang berduit menganggap itu tidak terlalu mahal dan bahkan itu murah serta saya yakin orang tua saya punya dan mampu untuk membayarnya. Dan benar saja saat saya bilang kepada orang tua bahwa saya berhasil diterima di PTAIN dengan biaya yang harus dibayar sebesar sekian, mereka menyanggupinya. Namun ternyata itu adalah uang orang lain, bukan uang dari orang tua saya. Saat tahu itu bahwa ibu saya akan mencarikan uang, saya hanya bisa terdiam. Jika saya bilang “tidak usahlah meminjam, mungkin jikalau fakultas yang terpilih saya lepaskan tak masalah” saya yakin akan membuat mereka sakit hati dan tidak setuju dengan pernyataan saya. Saya baru tahu itu, untuk fasilitas di rumah seperti kendaraan dll, memang dari hasil jerih payah mereka sendiri. Namun mengapa harus kepada orang lain, bukan meminjam kepada anaknya sendiri (kakak), seringkali saya disuruh untuk menabung di bank dan saya tahu jumlahanya saat ini. Mungkin jikalau dipinjam senilai tersebut kecil. Ya… mungkin orang tua tidak ingin membebani.
Saya berterima kash kepada Allah karena telah mengabulkan do’a saya namun juga ku bersedih dan meminta pertolongan serta meminta agar  saya diberi kesempatan untuk bisa meringankan beban dan sedikit bisa membayar semua jasa pengorbanan orang tua saya yang berusaha agar saya bisa mendapatkan yang terbaik.  Saya tahu persis sikap orang tua saya, jika saya meminta uang untuk keperluan belajar saya pasti menyanggupinya walaupun dengan dana yang cukup besar. Hingga teman-teman mengenal bahwa saya itu orang kaya, selalu mempunyai uang, selalu bisa membeli apa yang saya mau. Itu benar, apa yang saya mau pasti bisa terwujud. Namun status saya sebagai orang kaya itu kebohongan belaka. Tiap kali saya dan teman-teman bercanda tentang materi dan akhirnya mereka bicara terang-terangan menyebutkan bahwa saya itu uangnya banyak, jujur saja, saya berat hati menerima ungkapan tersebut, hanya dalam hati saya berkata “Amiin” dan mulut berkata “gak juga”.
Untuk mendapatkan sesuatu yang saya ingikan terutama yang diluar dari fasilitas untuk belajar bukan berarti saya bilang “ Ma, saya belikan motor,  belikan computer” langsung esok hari dibelikan, hrus menunggu berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun untuk bisa mendapatkannya.
Baiklah saya terus terang saja, untuk computer sendiri saya minta pada tahun 2008/2009 sejak masih MTs akhirnya dibelikan di tahun 2011 sejak duduk di kelas 10, orang tua mampu membelikan lantaran saat itu panen raya, sampai-sampai petani yang lainnya mampu membelikan anaknya sepeda motor keluaran terbaru dan dibayar cash. Alhamdulillah petani tembakau saaat itu makmur termasuk orang tua saya. Untuk motor, orang tua saya yang menginginkan itu.

Teman-teman dalam menilai kepribadian saya, mereka secara terang-terangan mengungkapkan bahwa saya tegas, berani, tenang, sabar, tidak punya masalah dll, pokoknya hidup enak, menyenangkan. Berarti sempurna.  Itu penilaian orang lain terhadap saya yang sebenarnya ungkapan mereka banyak kesalahan dan menyimpang 108o. Tegas, sebenarnya saya maasih berusaha belajar menjadi orang seperti itu. anggota keluarga sendiri menilai bahwa saya lembek, kalau bicara tidak jelas. Berani, saya mencoba untuk menjadi orang yang berani dan mandiri, tidak menggantungkan orang lain, anggota keluarga saja bilang bahwa saya “ora waninan”. Tenang, saya berusaha belajar menjadi orang seperti itu, kakak bilang bahwa saya itu “sok”, songajarin, sok tahu atau apalah. Sabar, sulit bagi saya untuk menjadi orang seperti itu, sering sekali di rumah membuat keponakan nangis, kadang dimarahi sama bapak karena emosi saya memuncak. Tidak punya masalah, mungkin jikalau dilihat dari wajah memang tak tampak ada masalah. Namun sebenarnya masalah itu pasti ada walaupun cuma masalah kecil saja, itu namanya juga masalah. Hidup enak, yang namanya hidup enak itu relative, saya bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan menurut mereka enaknya jadi dia, namun jikalau tahu bagaimana proses dari semuanya, membuat sedih juga. Orang tua bekerja keras, sedangkan anak cuma bisa menikmati saja, belum pernah merasakan menjadi orang tua seperti mereka. 

No comments:

Post a Comment